Tuesday, 3 March 2015

Nyesal masuk SMK?

Baru terasa ditahun ketiga lulus dari SMK. Eng, gak tau sih sebenarnya nyesal atau gak, yang tau rasanya sedikit nyesek, hiks. Ini gegara baca bukunya John Maxwell, Soe Hok-Gie. Padahal dalam buku itu gak ada sama sekali bahas sistem pendidikan loh, cuma dalam buku itu ya pasti membahas Sejarah. Dan gue sangat begitu teramat suka membahas pelajaran Sosial, semacam sejarah. Dulu sewaktu SMP gue semacam apa ya, pernah menjadi ‘murid kesayangan’ guru IPS gue dan menjadi murid –mungkin semacam– ‘murid kebencian’ guru Matematika gue, hahaaha. Karena gue emang cinta mati sama pelajaran IPS –tidak termasuk Ekonomi, karena gue gak pernah nganggap Ekonomi adalah bagian dari IPS. Gue ingat gimana gue dapat banyak cap –jadi tiap bisa menjawab pertanyaan dapat cap dari sang guru. Gue ingat betapa gak sabarannya gue melahap buku IPS gue. Gue suka menggebu kalau baca buku Sejarah walau sering lupa tanggal kejadiannya, buku Geografi, menghapal batas lintang negara, Sosiologi –bahkan dipelajaran ini guru gue pernah belain gue saat si doi ngejek gue, yakin gue dia iri karena gurunya lebih sayang gue, muhehehe. Sewaktu SMP gue yakin banget bakal lanjut ke SMA, bahkan teman sebangku gue yang waktu itu mau lanjut ke SMK Teknik gue hasut terus supaya masuk SMA. Bahkan gue hinalah SMK itu, semacam SMK itu sempit,  cuma bahas A kita gak bisa tau B C Y Z dsb. Dan yang terjadi adalah.. sebaliknya. Teman gue masuk SMA dan gue SMK.

Kenapa bisa masuk SMK?

Sewaktu itu pilihan sekolah sepenuhnya diserahkan ke gue, asalkan sekolahnya adalah sekolah baik & bermutu, orang tua setuju. Sewaktu itu gue daftar sama teman-teman gue, gue temenin dia ke sekolah A, dia temanin gue daftar kesekolah B. Sekolah B yang menjadi incaran gue ini emang udah sekolah yang gue incar semenjak SMP. Namun ada beberapa isu yang menyulitkan masuk kesana, gue anak SMP mudah amat kemakan isu. Karena takut dan kepengen aman, gue ikutilah teman gue ke sekolah A yang mereka daftarkan. Singkat cerita pas tes, teman-teman gue gak lulus masuk di sekolah yang mereka pengen tapi gue Cuma coba-coba anehnya lulus, teman gue yang daftar disana gak ada yang lulus. Pahit.


Friday, 20 February 2015

Apa kabar?

Terakhir kali aku bertemu denganmu, tepat 7 hari sebelum hariku. Ah, kau merusak bulan favoritku. Bulan hujan itu, bulan ceriaku sekarang punya sejarah pilu. Sekarang 141 hari telah berlalu, dan hari-hari itu berjalan fluktuatif. Terkadang aku begitu mengingatmu, terkadang aku bahkan lupa mengingatmu. Jika sedang mengingat, kau pun mampu membuat diriku berfluktuasi, kadang begitu pilu dan begitu bodoh dan begitu marah dan begitu tertawa, Haha.

Tidak, aku hanya merindukan saja.
Tidak pernah lebih. Kalaupun pernah, aku pun pernah mencoba agar sampai tidak pernah lebih daripada itu. Dan berhasil.

Aku menikmati seperti menjadi mainanmu, seperti anak sekolahan ingusan yang baru mengenal dunia kenal-mengenal pria. Aku mengingat kebodohan itu dan tertawa. Kau bersikap seolah aku terlalu abu-abu, dan kita tertawai kebodohanku. Dan aku menertawai keberpura-puraan bodohku padamu.

Tak ada, aku hanya mengingatmu di malam yang terlalu malam ini atau pagi yang terlalu pagi ini. Pukul 00 :34 sekarang. Tak ada yang terjadi pada kita, hanya mungkin aku memang seperti anak ingusan dihadapanmu. Hanya terdiam –kau hanya belum tau betapa tak bisa diamnya aku.
Akhir-akhir ini aku sering membaca prosa-prosa yang entah mengapa jika aku membacanya, maka yang teringat adalah engkau.


Apa kabar rindu?

Suatu hari, kita hanya diam. Sama-sama bungkam. Diantara kita tidak ada dendam. Namun jauh dibalik hatiku, ada duka bersemayam. Wajahmu yang biasanya punya ekspresi beragam kini hanya muram. Dan selalu muram.
Kita kadang masih melempar senyum. Tapi tak seikhlas dulu. Tak setulus waktu itu. Waktu kita tak hanya diam. Waktu kita menghabiskan waktu untuk saling bercerita. Waktu kita sering berdiri di lantai yang sama. Waktu kita obati duka dengan canda.

Rindu aku, dengan ekspresi wajah yang tak terpaksa.
Dengan senyum yang tak menyiksa.
Dan cerita yang murni, tanpa perisa.
–Ja(t)uh hal. 53


Kabar
Kelak disuatu senja kita akan berjumpa
Bola mata kita saling lekat menatap
Tanpa ada satu kata pun terucap

Kelak di suatu waktu kita akan bertemu
Aku masih ingat siapa namamu
Begitu juga kau mengenalku

Tapi mulut kita sama membisu
Kita mencipta kebekuan
Yang dulu sempat cair hanya dengan kata: 'Hai'
Atau, 'Apa kabar'
...................
Apa kabar?
–Ja(t)uh hal. 128

Saturday, 3 January 2015

Kisak Klasik, 2014

kla·sik 1 a mempunyai nilai atau mutu yg diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yg abadi; tertinggi

Seperti itu gambaran ringkas saya untuk segala kisah saya yang terjadi pada 2014. Ah.. 2014. Sungguh saya masih mengingat dengan jelas bagaimana saya memulai tahun tersebut, biasa saja, ruang kamar, riuh kembang api komplek dan dari Mall dekat rumah, alunan lagu biasa. Tak ada pesta, hanya ada jagung rebus saat itu. Awal yang biasa untuk tahun yang begitu sangat tidak biasa, tahun klasik saya. Ada begitu banyak kisah yang begitu bernilai, ada begitu banyak kata yang saya pelajari, manusia yang saya kenal, kejadian yang.. terjadi, rasa yang berjuta, pemahaman, pencarian makna. Ah, banyak sekali.

Kabut asap, orang-orang baru, akademis, politik, bola, organisasi, derita, kerja, pertemanan, kesenangan, pelajaran, diri....... 2014 yang begitu.. klasik.

2014 lalu diawali kota yang tertutup kabut kerakusan, entah mengapa saya baru menyadari –setelah 19tahun menghirup udara kota ini– bahwa negeri ini penuh dengan kesesakan kepentingan para orang  tamak, sampai udara pun harus dibayar begitu mahal. Dipedulikan ketika telah termegap-megap. Negeri yang kaya? Haha.

Orang-orang asing, yang malah tak asing. Menjadi begitu berpengaruh, orang asing yang tak tau nama atau wajah, hanya melalui kata tapi mengajarkan begitu banyak. Memberi semangat yang terkadang bahkan orang dikenal saja tak bisa berikan. Terimakasih atas segalanya. Kita yang masih mengenal ataupun masih menjadi sama-sama asing. Terima kasih. Saya percaya tidak ada kebetulan didunia ini, tidak ada hal acak yang tak berpola, Tuhan pasti merencanakannya.

Di 2014, Alhamdulillah nilai akademis meningkat dari yang gak diyakini bakal meningkat, dari yang satunya hanya bergabung pada satu lembaga saja, sekarang bertambah satu lembaga besar. Dari hanya mengikuti satu kepanitian, lalu bertambah menjadi satu kepanitian besar lagi. Kedua-duanya, dua lembaga dan dua kepanitian itu, memberikan kehangatan, pemahaman –yang pasti tidak akan ditemukan pada ruang kelas–, pengenalan, tanggung jawab, dan pasti membukakan pandangan saya yang selama ini hanya melihat dunia dari apa katanya, terjun langsung dan menjadi saksi bahwa tidak ada dunia yang  begitu.. begitu baik-baik saja seperti yang saya pikirkan –dulu. Perasaan menggebu-gebu, idealisme. Kekuasaan, kepentingan, mekanisme, alur-alur yang diatur, lalu dibungkus rapi agar terlihat baik-baik saja. Sungguh melihat atau tak sengaja terlibat dalamnya, bukan hanya sekedar mendengar ‘katanya-katanya’ atau hanya membaca cerita-ceritanya di buku.
2014 adalah tahun yang hangat bagi saya. Di tahun ini saya mulai memahami arti pertemanan sesungguhnya. 2014, Tuhan mengabulkan doa saya Dekatkanlah saya dengan orang yang dekat pada-Mu dan orang-orang yang mendekatkan saya pada-Mu. Bisa menikmati hari-hari bersama orang yang menjadikan saya lebih baik, dengan segala perbedaan suku, agama, pemikiran, perbedaan-perbedaan lainnya, tapi bersama dengan tujuan yang sama, seperti kata iklan bersama gak harus sama,  satu hal tertinggi yang saya miliki, 2014.
Saya juga mengenal ujian, walau bukan saya yang mengalaminya. Tuhan seperti amat terlalu menyayangi saya, saya diberikan jalan untuk lebih memahami ujian-Nya, lebih berbagi dan memahami pada sekitar yang begitu dekat tapi tak dipedulikan, pada ujian yang datang dari-Nya atau pada ujian karena manusia itu sendiri. Tuhan seperti ingin mendewasakan saya, dengan caranya yang begitu sempurna. 
2014 juga banyak perjalanan, begitu banyak kesempatan yang membuat saya melangkah lebih jauh dari sebelumnya. Perjalanan menuju diri yang lebih memahami dan perjalanan menuju keluarga baru. Perjalanan yang Insya Allah akan lebih jauh lagi.
Keringat pun saya cicipi ditahun ini. Sebuah kisah klasik yang menjadi highlight 2014 saya, dunia kerja  ‘sesunggunya’.  Pengalaman menikmati getir dunia yang sesungguhnya. Bagian ini biarlah menjadi bagian tersendiri nantinya yang akan saya tulis.
Dan kesenangan. Di tahun ini saya bisa borong begitu banyak buku, menghabiskan keringat pertama dengan buku, membeli kesenangan!. Merayakan 20tahun umur saya, umur dewasa –katanya. Dan kesenangan yang paling luar biasa, pada akhir tahun, bisa datang ke konser SHEILA ON 7! Yey!! Ye! Yo!
2014, tahun yang menjadi kisah klasik untuk masa depan. Tahun yang akan dibanggakan. Tahun dimana saya menyadari, mulai mencari dan mulai memahami dengan pandangan yang baru. 2014 yang begitu berharga, tertinggi.
Bak kata SO7 dipenghujung konser dengan lagu kisah klasiknya, saya pun begitu, mungkin diriku masih ingin berada di 2014.
Terimakasih Tuhan, untuk 2014. Alhamdulillah, 2014
Bismillah.. 2015
written: jan 01, 2015 02.11 am - belajar buat ujian ^o^9

Saturday, 6 December 2014

.......

Ada rindu yang harus disampaikan. Ada tanya yang harus dijawab. Ada kata yang tak terungkapkan. Ada harapan yang selalu ada. Ada tangan yang ingin menjabat. Ada mata yang ingin bertemu. Ada tali jam yang ingin kuganti. Ada pena mahal yang harus dijaga. Ada pesanan yang harus dicatat. Ada kerileksan yang diinginkan, dalam kesulitan nafas ditengah situasi yang sesak. Ada kesuksesan yang ingin dicapai. Ada target yang harus dikejar. Ada harga pada tiap harinya. Ada komplein pada ketidaksempurnaan. Ada letih dalam tiap semangat. Ada senyum yang menenangkan. Ada tatapan yang mencekam. Ada diam dalam kecewa. Ada pelampiasan pada hirup rokokmu. Ada emosi dalam teguk minumanmu. Ada dirimu dalam lariku. Ada yang diuntungkan karena ada yang diperas. Ada sedikit pedas  dalam makanan yang kau pesan. Ada malam yang menentramkan. Ada bayangmu pada cermin yang kau tatap –dan dalam mata yang tak kau tatap. Ada langkah yang cepat. Ada langit yang memberi kedamaian. Ada kota yang penuh mimpi. Ada tawaran untuk sebuah pengembangan. Ada kebohongan untuk pengalaman. Ada pelajaran di setiap kesusahan. Ada ketidakadilan yang didiamkan. Ada kecurangan dalam sistem. Ada rasa, rasa-rasanya kenal. Ada aroma yang tak disuka. Ada orang asing yang dilayani. Ada kekakuan pada kehangatan. Ada perpisahan untuk tiap pertemuan, lantas akankah ada pertemuan untuk tiap perpisahan? 

Akankah ada pertemuan untuk ini?

Akankah rindu ini dirasakan? Akankah ada jawaban untuk tiap tanyaku? Akankah kata ini terungkapkan? Akan nyatakah harapan ini? Akankah tangan ini dijabat? Akankah mata itu ditemukan? Akankah tali jam mu digantikan? Masih adakah pena mahalmu? Akankah pesanan itu tercatat dengan benar? Akankah bisa rileks ditengah sesak? Akankah tercapai kesuksesan? Akankah tercapai target bulan ini? Akankah sesuai harga pada tiap harinya? Adakah kesempurnaan setelah komplein? Adakah penyemangat pada tiap letih yang terasa? Masih menenangkan senyumanmu? Adakah keberanian untuk menatap kembali tatapan itu? Apakah diam akan mengganti kecewamu? Adakah kau merasa terbebas setelah kau lampiaskan semua pada paru-parumu? Akankah minumanmu mampu menghapus dahaga emosimu? Akankah ku bisa berhenti berlari karenamu? Akankah keuntungan mengalir kepada yang diperas? Akankah kau berani memakan makanan yang sangat pedas? Akankah malam selalu menentramkan? Akankah kau lihat bayangmu selain dicermin? Akankah kau mengerti irama pada langkah yang cepat? Akankah kau rasakan damai langit ditempatmu? Adakah mimpi ku di kota itu? Akankah tawaran itu ditawarkan kembali? Akankah kebohongan itu menjadi pengalaman yang berharga? Harus susahkah untuk belajar? Mampukah berkata lantang memerangi ketidakadilan? Adakah sistem yang menghancurkan kecurangan? Adakah rasa ingin mengenal? Akankah aroma itu berganti? Akankah ia akan terus menjadi asing? Akankah kehangatan mencairkan kekakuan?

Akankah terbaca tulisan ini pada yang dimaksud?
Akankah ada pertemuan dalam keadaan yang lebih sukses?
Akankah pencarian dimulai? Atau biarkan takdir yang menyelesaikan?


–Entah karena saya tau anda tidak disini lagi atau karena anda tidak disini lagi saya jadi tau
06 Desember 2014,  04:19
64 hari berlalu

 

Saturday, 29 November 2014

Tak hanya sekecil itu?!

Menganggu, semuanya menggangu. Perkataanmu, kebijakan engkau, tindakan para bedebah, pikirannya, hinaan si bang bangsat. Memuakkan semuanya. Atau saya yang lebih memuakkan?

Antara malu dan muak. Atas dasar apa kau merendahkan seseorang karena jabatannya? Atas dasar apa kau meremehkan seseorang karena pekerjaannya? Apa kau telah berubah menjadi bangsat?. Saya malu karena kau orang yang sudah kuanggap abang sendiri, tak peduli kau anggap aku apa, hanya junior yang tak mau nurut. Malu, ternyata pikiran kau sekecil itu, sehina itu. Tak kusangka pemikiran kau layaknya pemikiran seorang bedebah. Asal kau tau, tentu begitu mudah bagiku, untuk mendapatkan sebuah jabatan yang menurut kau akan ada apa-apanya karena jabatan ku sekarang tak ada apa-apanya, sudah ada tawaran, tentu kau tau tawaran itu. Tapi bukan itu yang ku kejar, bukan jabatan, aku bukan sedang membangun jejak politik. Bukan jabatan yang kuperlu, bukan jabatan yang ku kejar agar manis track record ku nanti. Lebih dari itu, sebuah pelajaran, sebuah kehangatan kekeluargaan, kebebebasan melihat dari sudut pandang mana saja dan lebih dari itu sebuah tanggung jawab. Sampai sekarang ingin sekali ku bentak kau, menyuruh kau agar menghina semua babu yang ada didunia ini, lalu melihat kau memuja orang yang tinggi jabatannya, kau puji sajalah -contohnya Presiden, lalu kau hina tukang sapu dipinggir jalan atau pemulung yang bajunya tak berganti-ganti. Akankah kau lakukan itu? Hinalah staff ini lagi, bangsat.

Andai orang lain yang berkata seperti ini tentu saja aku akan maklumi, banyak orang yang tak tau apa-apa karena mungkin setiap bertanya jawaban yang didapatnya hanya kau tak tau apa-apa, andai orang-orang seperti itu yang tak tau apa-apa –dan tak mau tau apa-apa– itu yang berkata indak den pikian do, tapi sekali lagi, ini sungguh kau bang yang berkata, hasil dari berdebat karena bedanya sudut pandang kita terhadap kebijakan pemerintah menaikan BBM.

Bagiku kebijakannya tepat, betapa banyak brengsek yang mendapatkan kembali -bahkan lebih- pajak yang mereka bayarkan hanya dari subsidi bahan bakar untuk mobil mewah mereka. Aku tau yang kau pikirkan domino effect kebijakan ini terhadap rakyat tak mampu, pemerintah menawarkan solusi blablablaa seperangkat kartu sakti, bagiku tugas kita adalah mengawasi alokasinya, awasi seberapa efektif kartu-kartu itu, awasi pemerintah boneka kita itu, karena bagiku kebijakannya sudah tepat, haruskah kita turunkan pemimpin karena kebijakannya benar? Menurut ku tidak, kecuali kebijakannya benar, tapi implementasinya salah. Sekarang apa sudah ada bukti implementasinya salah? Kita awasi jangan sampai itu terjadi. Tapi yang kau kata? Aku sok pro? Tempe saja aku masih nawar. Cukup sudah, aku tak tau apakah bisa lebih rendah lagi penilaianku terhadap kau, tapi menurutku sudah tidak bisa, itu peniaian terendah yang pernah kuberikan pada orang.

Lain lagi, saya tak suka ucapan beliau. Setidaknya kita harus turun, kita harus aksi, kita kan mahasiswa, kalau ngurus surat atau kepanitian anak SMA  juga bisa. Sekecil itukah pikirannya? Atau pikiran saya salah?. Kita aksi karena kita mahasiswa. Kita harus aksi. Haha.

Bagi saya jikalau saya harus aksi, saya tentu harus tau apa yang saya aksi-kan? Apa dasarnya? Apa tidak ada cara lain? Saya paham permasalahannya. BUKAN HANYA KARENA IKUT-IKUTAN, BUKAN HANYA BERGERAK DENGAN PEMIKIRAN KOSONG. Itu artinya, jikalau saya ingin ikut aksi, saya harus tau persoalannya, dasarnya. Bagaimana seperti aksi sebelumnya, apakah saya harus ikut aksi ketika saya setuju? Bukankah saya hanya menjadi seorang munafik disana?

Boi, bagi saya, saya masih ingin mencari jalan lain, untuk membangun negeri ini. Bukan berarti aksi itu salah. Saya setuju, apalagi aksi yang damai –tapi lucunya sekarang aparat kemananlah yang membuat sebuah gerakan aksi menjadi tidak damai, keparat bukan?– aksi yang tujuannya untuk kesejahteraan rakyat, untuk negeri ini menjadi lebih baik. Tak peduli saya telah menjadi mahasiswi, lalu setidaknya saya harus ikut sebuah aksi atas dasar karena mahasiswa itu adalah agent of change?. Selama saya tidak mengerti persoalan dan dasarnya, bertentangan dengan pemikiran saya, berlawanan dengan waktu kewajiban saya yang lain, saya tak akan turun aksi. Bagi saya agent of change itu luas, aksi bukan satu-satunya jalan menjadi agen perubahan untuk bangsa ini. Kuliah yang benar, memahami materi kuliah, mengimplementasinya dengan benar, berbakti pada orang tua, mengabdi pada negara dalam bentuk banyak hal, bahkan menjadi bagian dari kepanitian itu bisa menjadi beberapa jalan untuk menjadi agen perubahan. Asal tau, saat SMP saya sudah demo, walau untuk mengambil nilai pelajaran PPKn tapi itu saya laksanakan dengan baik. Jadi, lepaskan doktrin bahwa karena kita mahasiswa kita harus turun aksi, walau sekali, itu SALAH.

Menjadi Agent of Change lebih luas dari itu. Malah ketika ribut-ribut akan masalah ini, masalah itu, menomor dua-kan tanggung jawab utama kita kenapa kita jadi mahasiswa itu yang salah. Tak saya katakan bahwa kita harus jadi apatis, kita wajib peduli, karena siapa lagi yang kan peduli ikhlas pada negeri ini kalau bukan pemudah negeri ini sendiri? Rakyat hanya peduli ketika kepentingan mereka mulai diganggu, rakyat negara lain peduli hanya karena ingin menguasai negeri ini. Jadi memang kita pemuda negeri inilah yang bisa peduli pada negeri ini secara tulus, ikhlas. Tapi bagaimana kita bisa peduli dengan negeri ini kalau kita tidak peduli dengan diri kita?.

Bagaimana menjadi Agent of Change? Masih banyak carakan? Tak harus demo-kan? Demo tak salah, tapi bukan satu-satunya cara.

Sudahi dulu, saya masih terbingung dan terkagum dengan novel Persiden – Wisran Hadi dan ingin menikmati alunan radio malam ini, penyiar favorit saya saat ini yang sedang siaran. Semoga ia mau menemani saya sampai selesai saya membuat sebuah tugas kuliah

Salam 21:32 pada sabtu malam tanggal 29 November 2014
Tetap, semangat yo!