Kali
ini gue bakal bahas hal yang mengherankan bagi gue atau hal yang gak gue
ngertiin, dimulai pada saat dosen statistik gue atau dosen matematika (entahlah
sama aja toh statistik adalah matematika) membacakan hasil UTS kami, dimana
yang ujiannya yang benar diatas 3 disebut dan dibawah 3 tidak disebut dan nama
gue tidak di sebut. Bukan, bukan karena nama gue yang tidak disebut yang gue
herankan, yang gue herankan adalah masukan-masukan dari bapak dosen atau
nasehat atau apalah dari perkataan beliau yang panjang dikarenakan kesal atau
kecewa karena lumyan banyak mahasiswanya yang gagal dalam ujian, di
nasehatnya yang membahana ada satu hal yang membuat gue apaya, tercengang! beliau
mengatakan ‘memang sebenarnya matematika itu bakat’. Nah! Lihatkan, dengar,
baca! MATEMATIKA ITU ADALAH BAKAT! Terus, terus, ngapa juga gue belajar
matematika, kalau matematika itu bakat, gue udah pasti gak punya bakat
matematika. Lalu kenapa sepertinya sistem dunia ini memaksa gue belajar
matematika, yang malah membuat gue menghabiskan waktu hanya untuk mempelajari
dan mengerti sesuatu yang sama sekali bukan bakat gue. Kenapa sepertinya sistem
tidak membiarkan saja orang-orang menghabiskan waktunya untuk menekuni bakat
mereka sendiri.
Oke,
awalnya sebelum beliau mengatakan hal terkeren tersebut, beliau menganjurkan
cobalah cari apa masalahnya kalian tidak bisa mengerti, gue tau jawaban gue
saat itu, GUE GAK PERNAH PENASARAN SAMA MATEMATIKA. Iya, gue gak pernah pengen
tau tentang matematika, padahal rasa penasran itu kuncinya toh sebenarnya,
seperti lo lagi jatuh cinta pasti penasaran sama si doi, nah gue enggak pernah
sedikit pun merasa penasaran dengan matematika. Kalau gue sering lihat teman
yang suka matematika itu kalau misalnya lagi ngerjain soal matematika yang
susah mereka bakalan berusaha semati-matinya buat tau apa itu jawaban
matematika. Nah, kalau gue enggak pernah. Kalau ada soal yang gak bisa gue
dapatkan jawabannya, gue biarin, karena gue gak penasaran. Kenapa gue gak
penasaran? Karena bagi gue matematika itu fiksi, gak nyata, cuma ngambang aja,
misalnya gue disuruh nyari turunan parSIAL, fungsi linear, koordinat puncak
parabola atau apalah yang entah darimana angka-angka beserta rumusnya itu ada,
entah bagaimana contohnya di sekitar gue, atau entah untuk apa hasil jawabannya
gak ada di kehidupan menurut gue. Misalnya gue lagi jalan mau nyebrang di
jembatan penyebrangan , gue nyebrang aja gak gue hitung dulu berapa jarak gue
dengan tujuan gue, berapa tinggi gue dari jalan, berapa probabilitas gue bakal
selamat atau apalah. Makanya gue udah ngecap banget matematika itu seperti
fiksi, atau gak nyata, gak bisa di implementasikan, gak bisa dirasakan atau
apalah!.
Dari
dulu gue selalu bertanya, “Buat apa gue belajar matematika?, buat apa
matematika yang RUMIT ini?” oke kalau Cuma matematika hitung-hitungan biasa gue
ngerti, matematika hitungan kalau punya uang sejuta terus beli barang seratus
ribu lalu sisa berapa, nah itu mah nyata, tapi yang berumus angka, berpangkat
tak terhingga itu yang gak ngerti. Apa perlu banget gue yang tidak berbakat
matematika ini mengahbiskan waktu untuk mengerti matematika sedangkan gue bisa
aja menghabiskan waktu tersebut buat mempelajari lagi bakat gue mempertajam
bakat gue, bukan bakat orang lain.
Boleh
gak gue gak usah belajar matematika? Boleh gak gue ngasah otak atau logika gue
dengan permasalahan yang nyata aja, gak usah pake rumus-rumus yang gue gak tau
darimana itu rumus datang.
So,
karena matematika bukan bakat gue, boleh gak gue gak belajar matematika? Boleh
gak gue bodoh matematika?